Eci Handayani

Web Developer, Day Dreamer & Sunset Chaser
   Travel

Jumat sore, 30 Oktober 2015.

Baru sekali ini gue masuk lagi ke Stasiun Gambir sejak ganti menteri. Banyak yang berubah ya, tempat makan jadi lebih banyak pilihan, penumpang baru boleh naik satu jam sebelum kereta berangkat dan masuk peron pake dicek tiket dan ktp. Jadi nggak terlalu ramai di lantai atas. Tapi yang mengecewakan toilet di tempat nunggu dan setelah masuk peron sama-sama kurang oke. Oh iya, musholanya pengap dan sempit.
Setelah menunggu sejak jam 5 sore akhirnya dipanggil juga kita untuk naik kereta. Tepat pukul 20.45 kereta berangkat menuju Yogyakarta. Di dalam kereta sudah tersedia bantal kecil, selimut dan ada dua colokan listrik (penting!). Keretanya lumayan ngebut dan berasa goncangannya tapi karena udah keburu kecapekan nunggu dari sore, perjalanan kebanyakan diisi dengan tidur aja deh.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Jam empat pagi lewat dikit sampe kita di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Berbeda jauh dari Gambir, tempat sholat di Stasiun Tugu luas, toiletnya juga bersih. Jam enam pagi kita mulai perjalanan ke Gunung Kidul yang berjarak 75 km dari Stasiun Tugu. Meskipun Yogya gak macet, tapi lampu merahnya banyak.  Setelah 2.5 jam -yang dihabiskan dengan tidur-bangun-tidur-bangun dan gak sampe-sampe- akhirnya ketemu pemandangan kayak gini  dari pinggir jalan di atas bukit.

IMG_20151031_083742474

Pantai Wediombo

Tiket masuk ke pantai ini Rp. 5000, dari tempat parkir langsung disamperin ibu-ibu yang minta uang parkir dibayar duluan. Dari parkiran kita musti turun tangga. Tangganya dari semen, sebelah kanannya landai sebelah kirinya anak tangga.
Di bawah tertata rapi kios, warung makan dan toilet (yang tidak gratis. Rp. 2000 untuk buang air kecil) di kanan kiri jalan. Di dalam toilet cuma ada ember besar, keran, gayung dan saluran air pembuangan. Nggak ada klosetnya kalo mau pup gimana ya? Hihi.

The Road to Wediombo
IMG_20151031_093458339

Pantainya landai dan masih sepi. Waktu kita dateng cuma ada beberapa orang yang lagi main air dan kemping. Tumpukan batu karang di sisi kanan pantai jadi main point pantai wediombo. Airnya dingin, ombaknya juga lumayan. Kayaknya kalo lagi pasang airnya akan menggenangi batu-batu karang itu jadi kayak kolem renang. Pengennya sih foto-foto pake tongsis di sini tapi apadaya kita berdua gagap tongsis ditambah foto pake kamera depan hape hasilnya OE muluk. Aneh.

IMG_20151031_092432720
IMG_7489

Pantai Siung

Kelar dari Wediombo mampir ke pantai Siung yang jaraknya gak jauh dari Wediombo. Di sini lebih ramai daripada Wediombo, ada beberapa tenda di pinggir pantai ada juga tempat pelelangan ikan dan udang juga perahu-perahu nelayan yang bersandar. Dari papan informasi gue baru tau kalo kawasan ini termasuk Gunung Sewu Geo Park yang membentang dari Gunung Kidul sampai Pacitan. Dinamakan siung, karena ada batu karang yang katanya menyerupai siung (gigi taring)

IMG_7514
IMG_7516
IMG_7527

(The famous) Pantai Indrayanti

Tiket masuknya dua kali lipat dari pantai sebelumnya, yaitu Rp. 10.000. Dengan garis pantai yang panjang, pantai ini jauh lebih ramai dari dua pantai sebelumnya. Areanya mirip Ancol, kios-kios pedagang di kanan kiri rapih berjejer, penginapan juga ada. Highlight di pantai ini adalah tebing karang cukup tinggi yang bisa dinaiki untuk sight seeing. Di depan tangga ada tromol untuk sumbangan sukarela, tangganya gak terlalu curam masih layak naik lah.

IMG_7556
IMG_7543
IMG_7555
IMG_7557

Payung-payung besar itu rupanya punyanya restoran, jadi kalo mau duduk ya sekalian makan. Harga makanan dan minuman standar lah, kelapa batok dihargai Rp. 15.000 sementara menu paketan Rp. 23 – 25.000. Kayaknya udah dua kali jalan-jalan kalo fokusnya ke tempat maka urusan makanan jadi keteteran deh, seadanya doang gitu. Pantai ini seperti pantai wisata ngetop lainnya, banyak pedagang yang nyamperin nawarin dagangan tapi untungnya di sini ditolak halus langsung pergi nggak kayak di beberapa pantai hits lainnya yang maksa. Satu lagi, di sini ada menara pengawas SAR yang berfungsi!  jadi kalo ada pengunjung yang mulai nyerempet bahaya diteriakin sama penjaganya.

Pantai Sadranan

Yang menonjol saat memasuki pantai ini adalah berjejernya kios penyewaan alat snorkling sepanjang pantai. Rupanya di pantai ini kita bisa snorkling, karena dari bibir pantai masih bisa jalan kaki lagi sampai ke tengah-tengah laut. Sadranan cukup rame tapi nggak serame Indrayanti, which was good karena kita gak gitu nyaman sama pantai yang terlalu rame. Eniwei, ini pantai terkeren selama perjalanan kita. Rasanya pengen nyebur aja ke laut tapi sayang gak bisa karena tujuan masih banyak dan gak ada yang mau gantian jagain tas *huehehe* dan udah sampe rumah baru ngeh kalo beberapa bulan lalu pantai ini sempet longsor dan ada korban tewas, tebingnya memang tinggi-tinggi sih dan ada papan pengumuman bahaya longsor.

IMG_7558
IMG_7584
IMG_7563
IMG_7578

Pantai Drini

Sisi kanan Pantai Drini adalah tebing karang yang bisa disusuri sampe ke tengah,  tebing ini ditumbuhi berbagai macam alga (kayaknya). Sejujurnya gue mulai lieur antara Pantai Drini dan Pantai Sepanjang. Mulai ragu yang mana yang dikunjungi duluan. Kayaknya sih kita sebentar banget di Pantai Drini, cuman killing time nungguin sunset (padahal di Drini masih jam 2an).  Di sini ketemu ibu-ibu yang ngambilin algae ini (atau yg lain) buat apaan ya?

IMG_7623
IMG_7618
IMG_7603
IMG_7610

Pantai Sepanjang

Seperti Sadranan dan Drini airnya lagi surut kayaknya jadi bisa jalan-jalan sampe ke tengah-tengah. Banyak orang mancing dan (pastinya) foto-foto di sini. Di pantai ini ada tebing tinggi kayak lokasi suting video klip apaaa gitu *lupa*. Kalo diperhatiin lebih dekat banyak keong-keong jalan-jalan dalem air tanpa cangkang. Wah! keong telanjang! lalu ada juga bulu babi lagi pada ngumpet. Sambil nunggu sore kita foto-foto aja di sini (motoin keong).

IMG_7671
IMG_7677
IMG_7646

Pantai Kukup

Tadinya mah bingung antara mau ke Kukup atau ke Baron untuk liat sunset. Sebenernya pengen ke Ngobaran, tapi demi liat gugel maps jaraknya segono batal deh.

drini-ngobaran

Gak bakal nyampe pas sunset. Daripada gak kebagian liat sunset, kita manteng aja udah di Kukup. Naik ke menara pantaunya, ada tiang-tiang kanan kiri tapi gak ada pegangannya. Di menara pantau makin sore anginnya kok makin dingin tapi demi sunset dijabanin aja deh. Mungkin orang-orang sini udah bosen kali ya liat sunset, karena menjelang matahari terbenam kebanyakan malah pada pulang.

IMG_7683
IMG_7687
IMG_7688
IMG_7726

Kelar nonton sunset kita balik ke Yogya,  sepanjang menuju parkiran digodain sama bau udang goreng di kios-kios kiri kanan jalan. Sumpah nyesel gak belanja udang goreng. Perjalanan pulang ke yogya gak lancar karena ada truk kebalik di sisi kanan jalan berasa lagi macet-macetan di puncak deh. Mana laper berat, badan lengket, kaki pegel dan ngantuk pastinya. Sampe kota Yogya sekitaran jam 7, cari makan yang anget-anget berupa mie godog eh masa ngantrinya 18 orang, daripada pingsan mending cari tempat lain yang gak pake antri. Nemu tempat yang namanya (kalo gak salah) Mie Jawa Pak Pendek.

Minggu, 1 November 2015

Berangkat dari hotel kita naik becak aja ke Stasiun yang ternyata jaraknya gak jauh-jauh amat, kayaknya lain kali mendingan jalan kaki aja ke Stasiun kalo gak bawa gembolan sebanyak ini sih. Kereta ke Jakarta berangkat tepat jam 8.57 saatnya meninggalkan Yogyakarta Kota santai yang masih terlalu banyak tempat yang perlu dikunjungi. Kita pasti balik lagi.

IMG_7703
Line