Eci Handayani

Web Developer, Day Dreamer & Sunset Chaser
   Review

“mencomot” dua prosa (atau puisi?) dari “Filosofi Kopi” Dewi Lestari. Buku yang menggoda gue untuk ngebaca ulang semalam, meskipun hanya dua bagian ini yang sempet terbaca.


“… Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia?
Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap.
Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya.
Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.

Satu garis jangan sampai kau tepis: membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.

Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu.
Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri.”

-Kunci Hati, Filosofi Kopi by Dewi Lestari-


“….Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak disebar.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring bukan digiring.”

-Spasi, Filosofi Kopi by Dewi Lestari-

Line
« 
 »